Strategi Pemkab Jombang Perkuat Ketahanan Pangan Melalui Irigasi Modern: Jurus Jaga Stok Gabah!

Jombang – Ancaman krisis pangan global dan fluktuasi harga pasar menuntut langkah konkret dari pemerintah daerah. Menanggapi hal tersebut, Strategi Pemkab Jombang perkuat ketahanan pangan melalui irigasi modern dan kebijakan perberasan terbaru kini resmi digulirkan. Langkah ini diambil guna memastikan stok gabah tetap aman dan harga beras di tingkat konsumen tidak meroket tajam di tengah ketidakpastian iklim 2026.

Pj Bupati Jombang bersama jajaran Dinas Pertanian dan Dinas Ketahanan Pangan menegaskan bahwa penguatan sektor hulu melalui infrastruktur air dan sektor hilir melalui regulasi harga adalah dua pilar yang tidak bisa dipisahkan. Wilayah Plandaan dan sekitarnya menjadi fokus utama karena perannya sebagai lumbung pangan yang seringkali terkendala masalah distribusi air.

Sosialisasi Kebijakan Perberasan 2026: Jaga Harga di Akar Rumput

Melalui Sosialisasi Kebijakan Perberasan 2026, pemerintah daerah berupaya menyinkronkan data stok pangan mulai dari tingkat penggilingan hingga pasar tradisional. Kebijakan ini bertujuan untuk mencegah adanya penimbunan stok yang dapat memicu kelangkaan semu di tengah masyarakat.

Strategi Pemkab Jombang perkuat ketahanan pangan melalui irigasi modern juga mencakup pengawasan distribusi gabah hasil panen agar tidak seluruhnya terserap ke luar daerah. Dengan menjaga cadangan pangan daerah (CPD) tetap stabil, Jombang diharapkan mampu melakukan intervensi pasar secara cepat melalui Operasi Pasar jika terjadi lonjakan harga yang tidak wajar.

Baca juga: Daftar Desa di Jombang yang Langganan Kekeringan: Jalur Utara Brantas Jadi Zona Merah!

Modernisasi Irigasi: Kunci Hadapi Kemarau Ekstrem

Penggunaan teknologi irigasi modern, seperti sumur bor dalam dan sistem pipanisasi, menjadi kartu as Pemkab Jombang dalam menghadapi kemarau panjang. Di wilayah utara Brantas, infrastruktur ini memungkinkan petani untuk tetap menanam padi meski debit sungai primer menyusut.

“Irigasi modern bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan tadah hujan jika ingin mencapai swasembada pangan yang berkelanjutan,” tegas pihak Pemkab dalam forum sosialisasi tersebut. Penggunaan pompa air berbasis energi terbarukan juga mulai dikaji untuk meminimalkan biaya operasional yang sering dikeluhkan para petani.

Akurasi Data dan Peran Penggilingan Padi

Salah satu poin krusial dalam sosialisasi ini adalah pelibatan pemilik penggilingan padi dalam skema ketahanan pangan daerah. Mereka diminta untuk melaporkan kapasitas produksi dan stok secara berkala agar pemerintah memiliki basis data yang akurat dalam mengambil kebijakan impor maupun distribusi antardaerah.

Baca juga: Gak Takut Kekeringan Lagi! Sumur Bor di Plandaan Jombang Jadi Nyawa Baru Petani

Dengan data yang transparan, mata rantai distribusi yang panjang dapat dipangkas, sehingga margin keuntungan di tingkat petani meningkat namun harga di tangan konsumen tetap terjangkau. Strategi ini merupakan bagian dari visi besar menjadikan Jombang sebagai pelopor kemandirian pangan di Jawa Timur.

Optimisme Stabilitas Stok Pangan 2026

Meski tantangan ke depan tidak mudah, pemerintah optimis bahwa melalui strategi Pemkab Jombang perkuat ketahanan pangan melalui irigasi modern, stabilitas ekonomi daerah dapat terjaga. Sinergi antara pemerintah, petani, dan pelaku usaha penggilingan menjadi kunci utama keberhasilan regulasi perberasan ini.

Upaya preventif melalui penguatan sarana prasarana pertanian dan regulasi harga ini diharapkan mampu membentengi Jombang dari dampak inflasi pangan global. Kini, tantangan terbesarnya adalah konsistensi implementasi di lapangan agar setiap liter air dari irigasi modern dan setiap kebijakan harga benar-benar dirasakan manfaatnya oleh rakyat kecil.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *